Enter your keyword

Kamis, 15 Februari 2018

Kerlap Kerlip Lampu Kapal dan Harapan Ayah

"Kamu kenapa suka sekali dengan lampu kapal?" Tanya seorang teman suatu kali saat aku memaksa ia melihat kapal laut yang sedang berlabuh di Pantai Ujung Karang, Meulaboh. Seketika bayangan tentang sosok yang selalu ku harapkan hadir dalam mimpiku berkelabat dalam imajinasiku. Ah, sulit sekali menceritakan tentangnya dalam keadaan mata yang tak basah. Aku tak ingin cengeng di depannya,tetapi apa boleh buat. Barangkali aku harus memulai menceritakan tentang sosok Ayah yang mirip sekali karakternya denganku. Beginilah ceritanya.
Kapal di Kepulauan Penang, Malaysia
Kapal di Kepulauan Penang, Malaysia
Aku suka lautan luas, pantai lepas, matahari terang maupun terbenam dan kapal yang melewati lautan dengan lampu kerlap kerlip. Salah satu kesukaan itulah yang membuat kenangan tentang Ayah semakin sulit untuk ku lupakan. Ayah adalah laki-laki pertama yang mengenalkan kepadaku bagaimana seharusnya anak-anak pantai meraih mimpinya. Ayah selalu mengajak anak perempuannya ini menemaninya mencari telur penyu, memancing ikan, mencari kerang, memanjat kelapa dan belajar membuat garam. Masa kecilku bersama ayah memang menyenangkan dan pantai adalah arena bermain yang membanggakan bagiku hingga saat ini.

"Apa cita-citamu Ti?" Tanya ayah suatu malam ketika aku menemaninya membuat api unggun di tepian pantai sambil menikmati kerlap kerlip lampu kapal di tengah lautan. Ayah memanggilku dengan nama Ati dan aku menyukainya, meskipun teman-teman sekolahku di Kota memanggilku dengan sebutan n Nas. Kembali ke cerita cita-cita tadi, ku jawab dengan hati-hati. " Aku ingin sekolah tinggi-tinggi Yah. Aku ingin menjadi orang kaya, tidak enak menjadi orang tak punya seperti ini" Jawabku berkaca-kaca. Hidup dengan peghasilan pas-pasan dan kadang diejek-ejek oleh orang lain,  membuat jiwa mudaku memberontak tak terima dengan keadaan seperti ini. Aku bukan menyalahkan ayah tapi beginilah hidup ini. Kami diam sesaat, membiarkan dinginnya angin malam mendinginkan gemuruh di hati kami.

"Iya Ti, sekolah yang bagus ya. Jadi orang hebat tapi jangan lupa bahwa hidupmu selalu dimulai dari kampung kita ini, dari pantai ini Ti" katanya padaku menghela nafas dalam-dalam. Aku tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup gelapnya malam, tetapi aku tahu getar suaranya menandakan bahwa harapannya sama besar seperti harapan yang ku miliki. Ku anggukkan kepala tanda menerima nasehatnya, meskipun aku tahunya beberapa tahun kemudian Ayah mewajibkan aku mendapatkan minimal juara 3 besar di Sekolah. Ternyata untuk mewujudkan harapannya, ada pengorbanan yang ku lakukan sama seperti Ayah yang terus menerus bekerja apa saja demi menunaikan cita-cita besarku.

Nasriati Muthalib di Pulau Penang Malaysia
Aku dan Mimpi-mimpiku

Kini, saat kakiku entah kemana saja melangkahnya. Aku selalu punya memori spesial mengenang ayah lewat harapannya meskipun ayah sudah tiada, salah satunya lewat kapal yang berlabuh di Pulau Penang, Malaysia ini. "Semoga Ayah disana bangga melihat aku ya Yah, semoga apa yang aku lakukan menjadi amal jariah bagi Ayah. Apapun yang pernah terjadi, aku selalu bangga mempunyai seorang Ayah yang setangguh Ayah" Itulah doa-doa yang ku kirim kepada Ayah setiap kali kakiku diberi kesempatan oleh Allah untuk menapaki bumi-Nya. Barangkali juga karena do'a-do'a Ayah yang abadi selama ini. (NM)

2 komentar:

  1. aku sendiri belum punya kenangan sama papaku, soalnya pas kecil dia udah meninggal mbak. syukurlah kamu sempat punya kenangan sama ayah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas deddy, semua yang telah digariskan-Nya pasti ada hikmahnya. Tetap sabar dan semangat Mas :)
      Salam

      Hapus