Swift

Karena Cinta Itu Menjaga

Senja ini angin berhembus  membuat tubuhku menggigil kedinginan. Beberapa kisah terulang kembali dalam memoriku tentang sosok yang membuatku mengaguminya. Aku hafal bagaiman ia tersenyum manis dan tatapannya yang sendu. Sungguh, kedua hal itu tak bisa meredam gemuruh di dadaku. Laki-laki yang padanya aku belajar bagaimana melembutkan egoku dan menghargai semua pendapat orang sekalipun menyakitkan dengan cara yang baik. Kini, pada laki-laki dengan tatapan tenang itulah hatiku berlabuh. 

“Nania, kamu bisa. Tapi jangan enggak percaya diri dan jangan keras kepala karena kebenaran itu ada dimana-mana,” katanya suatu sore saat kami menghabiskan ice cream bersama sembari berdiskusi panjang lebar tentang kegiatan-kegiatan sosial yang akan aku lakukan dalam beberapa waktu kedepan. Aku tersedak mendengarnya. Yah, selama  ini bagiku tak menerima pendapat orang lain itu hal lumrah yang sering ku lakukan. Jadi biasa saja, menurutku.

Diam-diam itulah yang ku kaguminya darinya. Bersamanya banyak hal yang membuatku menganggukkan kepala tanpa perdebatan panjang. Entah bagaimana pendapatnya menyihir dan melunakkan kepalaku yang keras ini. Barangkali itulah cinta. Ah, hanya barangkali. Saat aku memutuskan berani melabuhkan hatinya diam-diam. Diam-diam membaca buku lebih banyak dari biasanya agar ketika kami berdiskusi aku tak terlihat bodoh. Diam-diam aku mempelajari banyak hal baik mengenai tentang spritual dan emosional—jika aku boleh bermimpi ; aku ingin mendampinginya.

Entah berapa kali senja aku tak bisa menghentikan rekaman tentangmu

Pun, diam-diam aku juga berdoa lebih banyak dari biasanya : untuknya dan untuk keluarganya—Kenapa harus berdoa untuk keluarganya? Karena aku tahu laki-laki itu sangat mencintai keluarganya—akupun ingin diterima oleh keluarganya. Entah berapa kali aku mengulang-ulang doa itu lewat sholat-sholat istikhorah dan sholat hajatku untuknya. Meskipun dia tak tahu tetapi aku yakin DIA tahu bagaimana aku berusaha mencintainya sesuai cinta-Nya. Aku yakin atas apa-apa yang ku lakukan karena aku ingin memberikan cinta yang terjaga kepadanya kelak. 

Satu hal yang ku pelajari dari rasa kagum—cintaku padanya yaitu caraku menjaganya. Pengalaman-pengalamanku yang lalu; aku mempunyai cinta yang menggebu-gebu, barangkali bisa disebut dengan cinta monyet. Sementara dengan laki-laki ini aku seperti menemukan cinta yang mendewasakan. Cinta yang aku  membuat batas yang jelas dengannya meskipun lewat komunikasi di sosial media. Sesungguhnya aku sangat merindukannya ; merindukan senyumnya, merindukan matanya yang menenangkan dan merindukan pendapatnya yang membuatku nyaman. Rindu-rindu itulah yang membuatku menangis terisak-isak di sepertiga malam kepada-Nya—dan aku tak pernah melupakannya meskipun dalam sebait doa sekalipun. Aku menjaganya dengan cara ini.
Pagi itu aku bertemu dengannya tanpa terduga di sebuah toko buku. Aku melihat dia berada di rak buku agama dan sedang membaca buku pernikahan. Sebenarnya aku telah berusaha menghindarinya tetapi tidak bisa –tatapannya persis jatuh di mataku. “Eh Nania, apa kabar dek? Lama enggak jumpa ya. Sehatkan?” tanyanya ramah.

Alhamdulillah sehat,bang. Iya, agak sibuk Nania bang. Abang tumben disini. Wah baca buku pernikahan nih, ada berita bahagia kah? Tanyaku dengan ekspresi senormal mungkin padahal aku sedang berusaha menutupi kegugupan yang melanda. Duh, pertanyaanku beruntun tak menentu. Dia tersenyum sembari menarik nafas dalam. Aku terdiam menebak-nebak.

“Hehehe Alhamdulillah.. berkat doa adek abang inilah makanya abang disini. Baca-baca buku pernikahan untuk bekal. Insya Allah bulan depan sudah ada kakak itu. Nanti kenalan ya Nan. Abang kenalin deh. Insya Allah kakak itu baik,” senyumnya mengembang. Aku bisa merasakan binar matanya yang berpendar bahagia—dan tubuhku yang kedinginan. Seketika air mataku ingin bercucuran, jika Handphoneku tak berdering saat itu. Aku melihat reminder di HP : belajar menulis cerpen bersama anak-anak di panti asuhan.

Alhamdulilah ya bang. Akhirnyaaaaa...senang mendengar berita bahagia ini dan jangan lupa dikenalin ya bang. Barakallah. Nania harus pergi nih bang, ada acara dengan anak-anak.” Tutupku senormal mungkin. Dia menawarkan kepadaku beberapa buku yang menurutnya cocok untuk ku baca—dia yang akan membayarnya, seperti biasa. Aku menolaknya dengan alasan masih ada beberapa buku yang belum selesai ku baca. Sejujurnya aku hanya tak ingin mengulur waktu bersamanya saat ini dan menambah daftar kenangan yang menghubungkan hatiku kepadanya. 


Dan dia bersama perempuan yang telah menjaganya lebih dariku,dalam doa-doanya.

Senja ini seperti senja saat aku bertemu dengannya—si pemilik wajah sendu dan perempuan dengan senyum terpancar penuh ketulusan. Aku memeluk perempuan itu dengan doa-doa terbaik yang bisa ku lafazhkan dengan ikhlas. Keduanya mengaminkan doa-doaku. Jadi, selama ini perempuan inilah yang berdoa lebih banyak untuk laki-laki itu sehingga ia dipantaskan oleh-Nya dalam akad yang  sakral beberapa hari lalu. Sementara aku harus terus belajar banyak mengenai kehidupan dan cinta ini.     Belajar berbaik sangka kepada takdir yang telah digariskan-Nya—karena percaya pada takdir adalah rukun 6. Jadi? Hidupku masih panjang dan aku akan tetap baik-baik saja. Insya Allah.

Barakallahu lakuma wabaraka ‘alaikuma wajama’ah bainakuma fii khair ya bang, kak. Nas pamit ya. Mohon maaf lahir dan bathin, Insya Allah minggu depan Nania akan ke Finlandia hingga tahun depan untuk mengikuti pertukaran pemuda dalam konteks isu sosial. Mohon doanya ya bang, kak.,” kataku memberitahu. Inilah takdir yang ku ambil—setelah banyak air mata yang ku tumpahkan dalam 2 minggu ini. Aku akan baik-baik saja dan harus terus meraih cita-citaku –tak peduli seberapa retak hatiku ini. Aku harus mampu berdamai dengan diriku, tekadku.

“Wah, Nania curang. Enggak kabari abang ya. Biasanya semuanya Nania kabari abang. Kalau begitu bawain kami juga dong. Sekalian bulan madu kesana hahaha,”tawanya renyah disusul tangannya yang merangkul perempuan cantik itu—namanya kak Nela. “Abang boleh kesana kalau Nania nikah dengan bule’ muslim disana. Bawain kakak sekalian juga nggak masalah,” kataku membalasnya. Kami bertiga tertawa—kecuali perempuan jutek disampingku ; namanya Nana –sahabatku. Dialah yang akan menulis kisahku kelak dalam lembaran-lembaran tulisannya.(NM)*

You Might Also Like

0 komentar