Enter your keyword

Sabtu, 29 April 2017

Aku Belajar Di Jalanan

Belajar bersama anak-anak di Simpang Pos Medan
"Apa yang sudah kau lakukan untuk anak jalanan? Anak-anak juga ditangkap sama satuan polisi pamong praja, masih ada yang cakap kotor, masih ada yang ngelem, masih ada yang tidak bisa sekolah, masih saja tidak bisa mengakses rumah sakit jika sakit. Lalu apa yang kau lakukan?" itulah beberapa pertanyaan yang 'menyadarkanku'.

Aku tidak ingin menjelaskan seperti apa yang berubah. Sebagai fasilitator lapangan di Lembaga Swadaya Masyarakat yang juga terbatas akses & 'kekuasaannya', kami hanya lakukan apa yang kami bisa. Banyak yang protes? Banyak! Tapi...hei negara yang mempunyai keuangan memadai dan kekuasaan penuh saja tak bisa mengatasi permasalahan fakir miskin dan anak terlantar yang tertulis rapi di Undang-Undang Dasar itu. Jadi, kami lakukan yang bisa kami lakukan dalam rangka membantu pemerintah mewujudkan harapan pasal 34 UUD itu.

Aku memang tidak pernah melakukan apa-apa kepada anak-anak itu. Aku sedang belajar banyak hal tentang hidup, memaksakan diriku untuk bersyukur dan menjadi perempuan yang bisa diandalkan. Aku sungguh ingin belajar pada alam raya, agar hidupku benar-benar hidup. Jadi,secara pribadi aku memang banyak menerima bukan memberi mereka.

Simpang jalanan itu memberi aku kesempatan mengenal banyak hal bahwa Allah begitu baik kepadaku. Allah menjagaku dengan hijabku dan lama-lama membuang rasa maluku yang tak penting. Betapa jalan hidu yang aku alami sekarang adalah cara Allah mempersiapkan aku menjadi seseorang (kelak), Insya Allah.

Di jalanan aku belajar mendengar ibu-ibu asongan mengenai hidupnya, tukang becak yang bercerita tentang keluarganya, anak-anak yang diusir keluarganya, kepala lingkungan yang harus melayani masyarakatnya, dokter yang baik hati melayani anak jalanan, abang-abang jalanan yang bercerita tentang proses hijrahnya serta kadang-kadang aku harus tertawa seperti orang gila kepada mereka yang kurang waras di jalanan. Jalanan memberi banyak pengalaman hidup.

Aku bukan pahlawan bagi mereka. Tidak ada kata-kata itu dalam kamus hidupku. Bahkan aku malu ketika teman-teman mengatakan aku aktivis sementara aku bukan aktivis. Kawan-kawan jalanan adalah aktivis bagiku. Guru kehidupanku. Dan itu akan berlaku seumur hidupku. Jika ingin belajar, belajarlah pada mereka.

Walau tak banyak yang bisa ku lakukan karena keterbatasanku, tapi aku yakin dengan mimpi-mimpi mereka. Jika mereka masih sangat bersemangat berjuang dari jalanan untuk hidup lebih baik, lalu apa alasanku untuk berhenti karena tidak dimengerti oleh orang lain? Terima kasih kawan jalanan. (NM) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar