Enter your keyword

Senin, 01 Februari 2016

Pemuda Dan Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan Kota Medan

Kota Medan adalah salah satu kota metropolitan di Indonesia yang mempunyai keragaman dan ciri khas masing-masing baik dari sisi budaya, sosial, kuliner dan lannya. Sebagai kota dengan kependudukan mencapai 2.983.868 jiwa per januari 2013. Data tahun 2013 tersebut saya peroleh dari stus resmi www.pemkomedan.go.id. 

Tidak bisa kita pungkiri, semakin banyak penduduk tentu semakin beragam pula permasalahan yang akan kita hadapi. Permasalahan yang kompleks tersebut bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi masyarakat juga harus turut andil dalam memberi solus terkat permalasahan tersebut.

Merujuk pada pengertian masyarakat, masyarakat merupakan sekumpulan orang yang terdiri dari berbagai kalangan yang tinggal dalam wilayah tertentu dengan peraturan hukum dan adat yang wajib ditaati. Masyarakat disini tidak ada pembatasan usia, bukan hanya orang yang berusia tua, tetapi juga mencakup anak-anak dan remaja. 

Banyak dari kita memperdebatkan lebih kepada usia pemuda itu berapa. Ada yang mengatakan pemuda adalah usia 15-35 tahun , ada yang mengatakan pemuda termasuk kedalam usia produktif dan lain sebagainya. Terlepas dari perbedaan usia, saya ingin menulis pandangan saya pribadi mengenai pemuda dan gerakan sosial menurut pandangan saya.

Gerakan Inklusi sosial anak jalanan kota medan
Pemuda dan Gerakan Inklusi Sosial Anak Jalanan

Pemuda adalah identik sebagai seseorang yang mempunyai semangat menggebu-gebu. "Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia," adalah pernyataan bijak dan luar biasa dari presiden pertama Indonesia kita tercinta ini. Betapa Soekarno menaruh harapan dan optimis yang besar terhadap pemuda.

Pemuda adalah agen perubahan dengan semangat positif yang menggebu merupakan posisi strategis dalam mengambil peran untuk membantu pemerintah dalam mengatasi permasalahan-permasalahan sosial. Seperti yang saya tulis diatas, salah satu faktor permasalahan kita adalah kependudukan. Menurut saya, semakin banyak penduduk maka akan semakin banyak permasalahan yang dihadapi, Sumber Daya Manusia sebagai penyeimbang sangat dibutuhkan dalam hal ini. Seperti kata bijak mengatakan,"jangan tanyakan seberapa banyak dberikan Negara, tetapi tanyakan seberapa banyak kita berikan untuk Negara?"

Saya mengutip pernyataan salah seorang social movement Kota Medan yaitu kak Rizky Nasution. Menurutnya pemuda adalah lilin-lilin muda. Intinya apakah kita siap menjadi lilin-lilin muda yang akan merubah dan mengembalikan budaya yang seharusnya menjadi awal pembentukan karakter bangsa ini. Saya sepakat dengan kak Rizky, pemuda adalah lilin yang memberikan harapan kepada banyak orang untuk selalu optimis bahwa ada cahaya walau kecil tetapi tetap bisa dijadikan petunjuk jalan. 


Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Pemuda adalah agen perubahan

Banyak orang tua yang menaruh harapan kepada pemuda meskipun dengan kata-kata yang kita anggap sepele misalnya seperti kalian masih muda masih punya banyak kesempatan, selagi masih muda manfaatkan waktu untuk berguna bagi banyak orang, selagi masih muda merantaulah dan lihatlah dunia lebih luas, masa muda hanya sekali manfaatkan sebaik mungkin untuk pengembangan diri dan masih banyak lagi kata-kata yang seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk percaya dengan masa muda kita sebagai pemuda.

Ada yang mengatakan untuk melihat suatu Negara maka yang kita lihat adalah pemudanya. Maka saya pribadi baru melihat beberapa hal mengenai Kota Medan dalam hal ini adalah anak jalanan. Setiap kota Metropolitan di Indonesia khususnya tidak lepas dari permasalahan anak jalanan. Anak jalanan merupakan anak-anak yang beraktifitas sehari-hari di jalanan tidak kurang dari 4 jam per hari. Rata-rata aktifitas anak jalanan yaitu mengamen, meminta-minta dan menjual makanan seperti air mineral, rokok dan lainnya. Berbagai faktor yang membuat anak jalanan 'turun' ke jalanan adalah faktor ekonomi keluarga, kekerasan rumah tangga, tidak adanya teman dan tempat bermain dan berbagai faktor lainnya. Sehingga membuat anak-anak jalanan 'nyaman' di jalanan.

Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Mengamen adalah salah satu aktifitas anak jalanan di jalanan
Beberapa hasil diskusi saya dengan beberapa teman pemuda dan komunitas mengenai anak jalanan. Apa yang terpikirkan mengenai anak jalanan? Hampir semua membayangkan dan mengatakan bahwa anak jalanan identik dengan pelaku kriminal, kotor, pembangkang, pemakai narkoba, tidak mau diatur, menggunakan kata-kata kotor, tidak sopan dan sederet hal negatif lainnya. 

Sementara kita jarang memikirkan banyak sekali bahaya yang mengintai anak jalanan seperti rawan menjadi korban pelecehan seksual, korban eksploitasi ekonomi maupun seksual, rawan menjadi korban kekerasan, rawan menjadi korban perdagangan orang dan yang paling fatal adalah putusnya rantai pemuda sejati di jalanan.

Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Anak jalanan juga mempunyai potensi yang patut diacungkan jempol
Anak jalanan juga mempunyai potensi yang besar jika kita bersedia memberdayakannya. Kadang kala kesempatan untuk berada di lingkungan publik dan stigma negatif yang melekat pada anak jalanan membuat ruang gerak anak jalanan semakin sempit. Ketika ruang ini semakin sempit dan potensi itu terabaikan, maka bisa dipastikan mata rantai sebagai pemuda yang akan berkontribusi banyak untuk Negara ini akan terputus.

Saat ini perkembangan organisasi pemuda dan komunitas yang ada di Kota Medan ini mengalami kemajuan pesat, banyak sekali komunitas yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Seperti komunitas kebudayaan, komunitas peduli pendidikan, komunitas peduli anak berkebutuhan khusus, komunitas peduli perkampungan terbelakang , komuntas pencinta alam, komunitas pencinta sungai, komunitas charity lainnya. Namun untuk komunitas yang bergerak untuk anak jalanan, masih sangat sedikit komunitas yang fokus terhadap isu anak jalanan. 

Latar belakang tidak banyaknya komunitas yang bergerak dibidang anak jalanan adalah kekurangan lembaga yang fokus terhadap anak jalanan,  sumber daya manusia yang kurang memadai mengenai anak jalanan dan stigma negatif terhadap anak jalanan, salah satu hambatan yang  membuat masyarakat, pemuda dan lainnya enggan terjun melayani dan memberdayakan anak jalanan. 


Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Banyak harapan di jalanan yang kadang kita pandang sebelah mata

Oleh karena itu, Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) yang beralamat di Jalan Stella III No 88 Kompleks Kejaksaan Simpang Selayang Medan Tuntungan yang fokus terhadap Isu penddikan dan hak anak melibatkan pemuda dari berbagai komunitas untuk ikut serta dalam gerakan bersama Program Peduli yaitu Gerakan Sosial Inklusi Sosial anak jalanan khususnya. 

Inklusi sosial adalah upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal. Melalui inklusi sosial, program peduli mendorong seluruh elemen masyarakat mendapat perlakuan setara dan memperoleh kesempatan yang sama sebagai warga negara dan terlepas dari perbedaan apapun. Jika kita ingin melihat banyak sekali karakter positf yang menjadi potensi utama anak jalanan diantarnya rasa saling setia kawan yang tinggi, mandiri, pemberani, tangguh, jujur, cerah, inspiratif dan lainnya.

Jadi, singkatnya inklusi sosial anak jalanan  ini adalah  saling menerima antara anak jalanan dan masyarakat untuk mencapai target-target keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, termasuk anak jalanan. Gerakan ini untuk merangkul anak jalanan yang mengalami stigma dan marjinalisasi dan mengajak masyarakat luas untuk bertindak inklusif dalam kehidupan sehari-hari. 


Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Setara dan tanpa perbedaan adalah harapan gerakan  inklusi sosial anak jalanan

Oleh karena itu, gerakan ini mengajak berbagai elemen masyarakat, pemuda dan komunitas untuk peduli bersama-sama mengenai anak jalanan diantaranya dengan memberikan kesempatan-kesempatan program yang bisa diakses oleh anak jalanan, menjadi sahabat anak jalanan, membuat kegiatan bersama anak jalanan dan mengkampanyekan kepada masyarakat luas mengenai inklusi sosial anak jalanan.

Pada dasarnya anak jalanan juga mempunyai hak yang sama seperti anak-anak lainnya dalam mendapatkan pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, identitas, pemberdayaan usaha dan pengakuan dari masyarakat bahwa anak jalanan juga mempunyai hak yang sama tanpa dibeda-bedakan.

Pemuda yang terlibat dalam berbagai komunitas sebagai sumbu utama yang mampu membangkitkan dan mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Kita tahu bahwa ketika banyak pemuda yang sadar dan tergerak melayani dan melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, maka tak bisa kita tampik bahwa di tangan pemudalah arah bangsa ini.

Gerakan Inklusi sosial Anak Jalanan Kota Medan
Saling bekerjasama bagian dari mendekatkan langkah mewujudkan impian #IDInklusif

Anak jalanan adalah bagian dari pemuda, sesama pemuda yang mempunyai harapan dan hak yang sama, sudah seharusnya saling bekerjasama dengan pemikiran terbuka dan tanpa perbedaan mewujudkan kehidupan yang ideal dan setara. Ketika kita abai dengan lingkungan sosial kita, maka siap-siap arah bangsa ini entah kemana.

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengutip pernyataan salah seorang abang di Yayasan KKSP yaitu, persoalan anak jalanan ini klasik memang tapi apa boleh buat, kalau persoalan anak jalanan tidak ditangani dengan bermacam upaya dari berbagai pihak, maka siap-siap bangsa ini kehilangan satu mata rantai generasinya. Kehilangan calon pemimpin dan orang besar masa depan. Siapa tahu kalau di antara mereka adalah Bung Karno, Bung Sjahrir, Bung Hatta, Bung Natsir, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer—kalau tak mau dibilang ' nama-nama koruptor'- kita di masa depan?! Siapa tahu! (NM)

4 komentar:

  1. Sorry kali ini kritikan :)
    Masih banyak tulisan yang typo, mohon di edit ulang nas.
    Secara general tulisan na oke, hanya saja akan lebih oke jika ada perbandingan di beberapa pergerakan konkawan yang sejenis, sehingga bisa menginspirasi pembaca untuk tergerak bersama dalam program Inklusi Sosial Anak. Btw, sebenar na di Medan ini permasalahan bukan cenderung timbul dikarenakan oleh jumlah penduduk na yang tinggi. Namun, Medan memiliki permasalahan sosial yang sangat unik yang dikarenakan faktor masyarakat na yang beragam, sehingga tidak ada satu budaya yang menjadi tombak role model dalam berprilaku. Perbandingan na dengan Jogja, Bandung, Bali, dan yang paling nyata adalah Jakarta. Meskipun Jakarta lebih besar jumlah penduduk na, tapi mereka masih lebih teratur dibanding warga Medan. Contoh sederhana na dalam hal berlalu lintas dan bertransportasi umum. Selain itu, jika dilihat dari aspek budaya dan sejarah, mereka jauh lebih melestarikan heritage kotanya. Bahkan dalam kurikulum sekolah, mereka memiliki kurikulum wajib wisata museum dan bahasa daerah. Ini sedikit pengalaman yang aku alami.

    Semoga bisa menjadi kritikan yang membangun nas ;)
    Terus berkarya nas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Rizky ^^

      Memang banyak sekali typo karena buru buru di posting tanpa di edit hehehe..

      Terima kasih masukannya dan semangatnya kak :D

      Hapus
    2. Nanti akan mas edit ulang dan memperkayakannya lagii. Thank you kak ^^

      Hapus
    3. Nanti akan mas edit ulang dan memperkayakannya lagii. Thank you kak ^^

      Hapus