Enter your keyword

Jumat, 12 Februari 2016

Oktober Untuk Ayah

Malam ini, aku berusaha menulis dengan melapangkan semua yang terjadi belakangan ini. Merefleksikan diri barangkali banyak sekali yang tidak bisa ku maafkan dari diriku. Namun lagi-lagi hati menyarankan harus terus berusaha menjadi yang terbaik dan lebih baik. Ada banyak mimpi yang harus diraih meskipun tertatih-tatih.

Saat malam tiba ada kerinduan yang membuncah tentang sosoknya yang ku panggil dengan sebutan Ayah. Ayah yang telah pergi meninggalkan semua kisah indahku bersamanya. Jika dulu saat Beliau masih ada, rinduku tak seperti ini buncahannya, tak ada air mata yang mengalir saat kerinduan itu hadir. Barangkali karena Beliau selalu ada di samping, semua terasa baik-baik saja.

Ayah, laki-laki pertama yang jika Tuhan izinkan, aku ingin Beliau hadir dan memberikan kekuatan untukku yang mulai gamang menentukan arah tujuan. Jika dulu aku selalu merasakan bahwa aku bisa tanpa Ayah, namun saat ini kesadaran itu tumbuh bahwa hidup tak jauh lebih baik tanpanya.

Setiap kali aku melihat seorang Bapak menggendong anaknya di Taman yang aku datangi dan seorang anak yang tertawa gembira dengan Ayahnya di sebuah kafe membuat aku iri berkali-kali. Mereka bisa tertawa lepas seperti itu, mungkin jika ada Ayah disini, aku juga bisa seperti itu. Ah Ayah aku rindu.

Ayah pribadi yang tidak banyak cakap namun Beliau keras dan tegas , beberapa sifatnya menurun kepadaku, begitulah kata Mamak.  Meskipun hidup tak terlalu lebih, namun Ayah selalu ingin kami mendapatkan pendidikan terbaik dan Beliau berusaha semaksimal mungkin untuk itu. Beliau memang sudah tidak ada, tetapi semua aliran semangat di aliran darah ini seakan memberi energi baru untuk 'menghidupkannya' kembali dalam jiwa dan ragaku.

Ayah Sebagai Pelindung Keluarga
Ayah sebagai pelindung keluarga

Ayah bagiku seperti oase di Gurun Pasir, menyejukkan kerongkonganku saat dahaga. Ayah seperti pondasi yang membuatku kuat berjalan, Ayah adalah pelindungku yang menguatkan semangat untuk meraih pendidikan. Ayah, aku merindukanmu.. meskipun tak sempat ku ucapkan kata cinta selama hidupnya, namun aku selalu percaya do'aku dan do'anya menyatu ditempat yang sama. 

6 tahun sudah Ayah pergi meninggalkanku, Mamak, Abang dan keempat adik. Oktober adalah bulan terakhir aku melihat Beliau tersenyum dan kadang menangis karena sakit yang dideritanya. Oktober adalah penutup kisah indah bersamanya dan Oktober adalah duka yang tak terhingga bagiku.

3 tahun lalu aku kerap membenci bahkan terkadang takut dengan kehadiran Oktober. Oktober adalah bulan yang membuat aku pincang dan linglung dalam melangkah. Kehilangan sosok, kehilangan figur,kehilangan pelindung dan rasa kehilangan lainnya yang menghantui masa depan. Oktober, aku rindu mengulang bulan saat 6 tahun lalu. 

Aku merindukannya dan kadang kebingungan arah dimana aku harus berhenti untuk meluapkan rindu ini? Kadangkala aku selalu berharap Ayah hadir dalam mimpi sekedar melihat bahwa aku baik-baik saja disini. 

Aku adalah anak perempuan yang selalu disayangi oleh Beliau, meskipun pada kenyatannya aku 'lupa' mengatakan sayang kepadanya sehingga beliau pergi menghadap-NYA, aku juga 'lupa' mengungkapnya,lupa yang membuat sesal di hati.


Untukmu Ayah,
Malam semakin larut saat imajinasi mengawang dan mengambang.
Kesepian dan kerinduan itu hadir bersamaan
Aku tak bisa mengelaknya,Yah..

Untukmu Ayah,
Ku harap kau hadir walau dalam bayangan semu
Atau hadirlah dalam rinduku yang tak tertahan lagi untukmu..

Untukmu Ayah,
Ada banyak cinta dan cerita yang ingin ku ulang bersama denganmu
Aku ingin kau melihat putri kecilmu ini sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa
Apakah Ayah bangga?
Bisikkan padaku bahwa Ayah bangga menjadikanku anak Ayah..

Untukmu Ayah, 
Ada segenap rindu yang membuat dadaku membuncah, rindu tak tertahankan. 
Aku ingin Ayah memelukku dan mengatakan semua pasti baik-baik saja

Ayah...
Ternyata hidup ini tak semudah yang ku bayangkan saat bersamamu dulu
Hidup seperti ini membuat diri harus lebih kuat, 
Namun ternyata kadangkala aku menangis lebih kuat,Yah..
Aku selalu membayangkan, Jika kau ada disini...
Barangkali aku akan terus tertawa setiap hari. 

Ayah..
Kadangkala aku terseok-seok melangkahkan kaki melangkah ketempat yang kau impikan dulu
Kadangkala aku harus mengumpul seluruh kekuatan agar tak menangis jika mengenangmu..
Kadangkala aku membenci Tuhan, mengapa DIA mengambil kau duluan?
Namun aku sadar, itu tidak pantas ku lakukan. 

Ayah..
Didikanmu yang keras, menampar-nampar semangatku untuk berpacu.
Mimpimu yang besar yang harus ku wujudkan adalah amanah sebelum kau pulang
Semangatmu tepat melekat dihati, agar aku bisa merasakan hidup yang lebih baik.

Ayah..
Lewat doa ku kirimkan rinduku padamu,
Semoga rindu kita menyatu disana
Dan berharap syurga menjadi tempat sebaik-baiknya rindu kita bertemu..(*)


Setelah 3 tahun berdamai dengan Oktober dan aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tuhan telah menentukan kapan waktu istirahat itu berhenti. Seberapapun aku membenci Oktober, ia akan tetap datang dengan indah. Aku hanya ingin mengungkapkan cinta untuk Ayah lebih banyak, melalui tulisan dan do'a sebagai bekal amal jariyah bagi Ayah.

Aku memang selalu tak bisa menjadi perempuan kuat jika menulis dan mengenang Beliau. Selalu saja bulir cinta itu mengalir, membasahi dengan lembut dan hati seperti tetusuk dalam dan tajam. serasa ada hati yang hampa,ada yang kosong. Namun inilah hidup yang harus dijalani, aku tahu Ayah tak menginginkan aku diam sendiri dan berpangku diri. Ada harapan disana meskipun Beliau telah tiada.

Ayah dan Anak
Ayah adalah pelindung yang menguatkan
Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam Novel Bukan Pasar Malam, "di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana".

Suatu hari nanti, aku juga akan pulang ketempat sebaik-baiknya pulang. Ayah telah pulang dengan tenang, kini sembari menanti kematian aku berusaha membuat Ayah senang.
Ayah..meskipun kau telah pulang, ada banyak kerinduan yang ingin ku sampaikan. Doakan terus anak ini kuat melangkah dan menaklukkan tantangan seperti yang Ayah pesankan.

Oktober untuk Ayah,
Aku akan selalu berdamai dengan banyak hal. Aku percaya selalu ada tawa dibalik air mata dan selalu ada kemudahan dibalik kesusahan.
Jika beberapa tahun lalu Oktober adalah menyakitkan, semoga tahun-tahun selanjutnya Oktober adalah pembuktian bahwa segenap materi dan non materi yang kau korbankan akan berbuah ranum dan matang.

Oktober untuk Ayah,
Allahummaghfirlahu,Warhamhu, Wa'afihi, Wa'fuanhu. (NM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar