Enter your keyword

Jumat, 08 Januari 2016

Rumah Dan Simpang Jalan

Rumah bagiku, bukan hanya sekedar bangunan tempat tinggal agar tidak sakit ketika kehujanan atau mata tidak perih ketika terik matahari menyinarinya. Rumah dengan jendela angin yang lebar nan menyejukkan, halaman yang luas dengan pepohonan dan tawa riang seisi rumah adalah bagian-bagian indah yang ingin sekali ku dapat dari rumah.

Rumah tanpa jendela dan ventilasi bagaimana aku bisa menulis dengan bahagia? Tentu sesak nafas dibuatnya. Halaman yang luas adalah impianku untuk bisa bermain dengan teman sebayaku seperti bermain kasti, bermain kelereng dan menanam pohon yang aku suka. Pasti menyenangkan ketika pohon itu rindang meneduhkan dan berbuah banyak.


Rumah dengan jendela luas, pohon yang rindang dan tawa yang riang (gambar via gambardanpuisi.blogspot.com)

Tawa riang adalah energi untuk tumbuh dengan pribadi yang positif dan percaya diri, aku ingin sekali tertawa berkali-kali dengan Bapak dan Ibu setiap hari agar hatiku tenang dan berarti. Aku tidak bisa menjalani hari-hari seperti ini : mereka saling menangis karena berkelahi dan saling melempar piring ketika saling emosi. Jika setiap hari ini terjadi seisi rumah pasti frustasi dan aku termasuk anak yang frustasi lalu berlari.

Rumah bukan hanya sekedar fisik dengan bangunan indah menjulang. Bagiku rumah adalah tempat dimana aku selalu bisa pulang dengan tenang dan selalu diterima dengan hati yang lapang. Rumah bagiku bukan hanya tempat berteduh dari hujan dan terik mentari, tetapi rumah adalah tempat dimana aku selalu dianggap berarti dan dihormati.
Namun apa yang terjadi? Bapak dan Ibuku hanya terfokus bagaimana mencari sesuap nasi dan bagaimana rumah ini harus segera direnovasi. Ketika kedua hal itu tidak terjadi mereka saling emosi, mencaci, berkelahi dan melampiaskan segala kesalnya kepadaku.
Rumah macam apa ini?

Aku berlari mencari rumah kedua, dimana aku bisa berteriak marah, tertawa bahagia dan menangis meratapi hidupku tanpa harus malu. Aku bisa menentukan hidupku dengan hatiku sendiri. Aku tidak perlu harus diam-diam tidur dikasur, diam-diam makan makanan yang sudah dimasak ibu, menunduk dalam-dalam karena ketakutan bentakan ayah, menahan sakit karena pukulan dan tendangan ayah menghujam ulu hatiku. Bukan hati fisik yang sakit, tapi hatiku yang terdalam begitu sakit. Sakit ini susah sekali sembuh, bahkan sesekali aku mencontohkan perbuatan ayah kepada kawan sekelasku. Kami berkelahi, pihak sekolah melaporkanku kepada Ayah. Lalu ayah memukulku lagi karena malu. Ayah lupa kalau tindakannyalah yang aku tiru selama ini. Ayah lupa bagaimana memberiku contoh bagaimana menjadi anak yang baik budi. 

Anak jalanan dan lampu merah
Lampu merah adalah tempat persinggahan kedua bagi kami. gambar via www.pixabay.com

Aku mendapati rumah kedua itu dalam kebisingan sudut-sudut simpang kota metropolitan ini. Aku melihat kawan-kawan begitu bahagia bernyanyi dengan gitar, ukulele, kincrung dan alat-alat bekas lainnya. Disudut mata dan bibir mereka, banyak sekali senyum terukir dan terpancar bahagia. Aku tertarik pada rumah kedua ini yaitu sebuah 'rumah' di simpang jalan. 

Simpang jalan yang terik ini hidupku terlihat asik. Aku bisa mendapatkan uang untuk jajan sehari-hari. Jika aku sakit kawan-kawanku banyak sekali yang ingin membantu mengobatiku. Mereka memberikan kenyamanan dan kerinduan setiap kali aku bernyanyi di persimpangan walau kadang kala dengan teriakan kesal dan sebutan nama hewan. Tapi aku bisa membalas dengan kata-kata serupa, jika dengan Ayah? Aku pasti tidak bisa membalasnya, menatapnya saja aku tidak berani apalagi bercerita tentang hati padanya. Pasti akan masuk dalam kategori keajaiban dunia jika aku bisa bercerita secara leluasa dengannya, Ayahku.

Simpang jalan dengan kebisingin lalu lintas mengajariku banyak hal dan menemukan beragam teman. Aku mudah mendapatkan apa saja seperti yang aku mau seperti ekstasi dan jenis barang haram lainnya. Disimpang jalan aku bisa mendapatkannya dengan mudah jika aku mau. Disini aku kadang tetap mendapatkan kekerasan dari preman-preman setempat dan kadang resiko dirazia, dicuri dan dijual belikan oleh orang lain merupakan resiko yang membuat hatiku was-was ngeri. Aku tidak mempunyai identitas diri dan keterbatasan membacaku sungguh ini merupakan ketakutan tersendiri bagiku, karena dengan mudah orang lain mengklaim dan membodohiku.

Tapi mengapa aku masih bertahan di simpang jalan ini? Karena disini aku menemukan ketenangan hati dan mudah bagiku berekspresi tanpa harus melihat orang tua ku saling menyakiti diri. 
Kadang kala kerinduan itu datang di hati, aku ingin sekali pulang untuk sekedar melihat orang tua ku tenang, melihat wajah adik dengan senyum ringan dan menikmati masakan ibu yang sudah lama tak ku cicipi. Kadang kala aku melihat kawan seperjuanganku dijalanan menangis dalam tidur meratapi hidup yang kadang tak berpihak kepadanya, ayahnya pergi meninggalkannya karena menikah lagi. Sebagian lagi bernyanyi dijalan hanya untuk mengisi perut agar tidak lapar dan beban bagi keluarganya.

Anak Jalanan dan Simpang Jalan
Walau harus mengamen mencari uang, kami bisa menikmati 'kebebasan'

Adakah disini yang tak ingin pulang? Aku dan semua kawanku dijalanan selalu ingin pulang. Ingin pulang dalam pelukan ibu yang hangat dan menenangkan. Ingin pulang dalam perlindungan ayah yang begitu kuat penuh perlindungan. Aku ingin pulang dalam keadaan tenang. 
Memang dijalanan aku bisa mencari uang jajan dan bersuara dengan lantang, namun aku selalu sadar sebaik-baiknya pulang adalah ketempat yang ku sebut rumah pada awalnya. 

Aku ingin menulis puisi, barangkali kau ingin membacanya. Bacalah..
Agar kau tahu bagaimana aku dan lainnya berjuang dijalanan. Agar kau kelak juga bersedia memberiku tempat pulang. Menjadi keluarga keduaku diluar jalanan. Bacalah puisiku ini :

Kau harus tahu,
Hidup dijalanan ini tidak mudah
Orang-orang menatap sinis & berbeda.
Memberi label penjahat, pemakai narkoba & gelandangan tanpa etika.
Ya, mereka menilai sesuka hati tanpa hati.

Kau harus tahu,
Siapa disini yang ingin hidup susah?
Semua ingin kaya & bahagia.
Kamipun punya cita-cita yang sama.
Ya, hidup kaya dan bahagia.

Kau harus tahu, 
Kami dari jalanan punya hak yang sama.
Mendapat hak untuk sekolah, pengobatan jika kami sakit & semua hak yang dijanjikan Negara.
Ya, sama seperti anak lainnya.

Hei..!!
Dari jalanan kami ingin bersuara.
Bukan untuk memohon rasa iba.
Tetapi hanya untuk dihargai bahwa kita setara.
Ya, kita setara.


Jika kau sudah membacanya, sampaikan kepada orang tuaku agar ia mnerimaku kembali dan membawa ku pulang dalam rumah yang ku impikan. 
Sampaikan kepada ayahku, apakah ia tega melihatku dicap sebagai gelandangan dijalanan? Apakah ia tega anaknya ini di diskriminasikan?
Sampaikan kepada Ibuku, apakah ia tidak iba melihat aku terus-terusan tak bisa sekolah dan membaca?
Sampaikan kepada mereka berdua, bahwa hidupku tidak mudah disini, aku ingin kaya dan bahagia. 
Aku ingin sekali berguna bagi ibu dan ayah. 
Bawa aku pulang... jangan biarkan aku terlalu lama disini walau kebebasan ku dapati disini, namun rumah dan kalianlah yang selalu membuatku rindu dan menangis sendiri.

Anak jalanan dan Simpang jalan
Kami kadang tertawa tetapi tahukah kamu bahwa kami kadang menyimpan duka?

Namun jika mereka juga tak pernah terketuk hatinya kembali untukku menetap dirumah, semoga kau yang membaca ini mengetuk hatimu untuk melihatku disimpang jalan dengan mata yang menghargai atau jika kau berbaik hati sekali, jadilah rumah kedua bagi kami. Tempat kami bisa mencurahkan segala isi hati tanpa diskriminasi, tempat kami berbagi dan belajar memperbaiki diri.

Percayalah tak mungkin tidak ada kerinduan itu dijiwa, bahwa rumah yang ku bayangkan seperti rumah yang ku tulis dari awal : rumah dengan jendela yang lebar, halaman yang luas dan tawa yang riang.
Jikapun nanti aku tetap tidak menemukan rumah sebenarnya, semoga simpang jalanan ini bisa mewujudkan mimpiku membangun rumahku kelak dengan impian yang sudah ku rencanakan ini. (NM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar