Enter your keyword

Kamis, 24 Desember 2015

Semarak Tradisi Maulid Di Aceh

Selain bulan Ramadhan, bulan maulid atau rabiul awal adalah bulan yang juga dirindukan oleh masyarakat Aceh dikampung maupun bagi perantau juga membuat rindu membuncah untuk pulang ke kampung halaman. Dalam bahasa aceh, bulan Maulid disebut Buleun Maulod.

Bulan maulid adalah bulan kelahiran nabi Muhammad SAW yang lahir 12 Rabiul Awal pada tahun gajah. Tulisan ini terlepas dari dalil yang membolehkan atau melarang perayaan maulid karena masih ada perbedaan pendapat para ulama karena saya tidak berkapasitas dalam hal ini. Wallahu'alam.
Jadi saya hanya ingin berbagi mengenai tradisinya saja.
Meudike malam di Aceh dengan gerakan duduk. (gambar oleh budi)

Di Aceh setiap Rabiul Awal hingga Rabiul Akhir selalu ada perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui Meudike. Meudike jika diartikan dalam bahasa indonesia, artinya berzikir. Sementara di Aceh, gerakan meudikenya bervariasi. Ada gerakan duduk dan berdiri, membaca shalawat, kitab berzanji dan meyampaikan pesan-pesan agama lainnya dalam bahasa Aceh maupun bahasa Indonesia. 


Perayaan Maulid di Aceh
Membaca kitab barzanji tidak terlepas dari perayaan maulid di Aceh (Gambar : Ulen)

Masyarakat Aceh menyambutnya berbondong-bondong dan bersuka cita karena untuk Meudike ini masyarakat sudah mempersiapkan jauh hari. Baik masalah finansial, gotong royong dan persiapan lainnya. 

Meudike inilah yang menjadi tradisi di Aceh secara turun temurun. Meudike bukan hanya dilakukan sehari tetapi juga dilakukan pada malam hari. 
Meudike malam selama 3-7 hari dan meudike siang 1 hari. Pada malam pembukaan dan penutupan meudike, masyarakat yang mendapat giliran membawa makanan akan membawa nasi rantangan. Sementara pada malam pertengahan masyarakat biasanya membawa kue, buah, es dan sebagainya ke mesjid untuk dimakan bersama.


Perayaan Maulid di Aceh
Membawa nasi dan kue untuk dimakan bersama di mesjid saat Meudike (Gambar: Ulen)

Setiap rumah mendapat giliran membawa makanan dan semua yang hadir akan mendapat kue, buah atau es untuk dimakan dan dibawa pulang. Menarik sekali bukan?

Sementara untuk meudike siang diadakan hanya satu hari dan lebih identik sebagai puncak perayaan maulid Nabi ini. Gerakan Meudike hampir sama dengan gerakan meudike malam, hanya saja masyarakat tidak membawa nasi rantangan tetapi membawa dalong atau dalam keranjang rotan dengan isi berbagai macam lauk pauk dan buah yang sudah disusun rapi didalamnya. Selanjutnya diatas keranjang rotan ditutup dengan sangai atau dengan kain penuh motif sehingga terlihat sangat menarik.


Perayaan Maulid di Aceh
Dalong dan keranjang rotan yang tekah diisi lauk pauk dalam perayaan maulid di Aceh (Gambar via kompasiana.com)

Dikampung-kampung masih menggunakan bu kula atau nasi yang dibungkus berbentuk piramida menggunakan daun pisang muda. Namun seiring perkembangan, banyak masyarakat yang menggunakan nasi kotak atau nasi bungkus saja. Selain bu kula juga ada nasi minyak namanya, nasi minyak ini dimasak dengan rempah-rempah yang harum sekali baunya. Menggiurkan sekali.

Perayaan meudike ini bukan hanya untuk masyarakat setempat saja, tetapi masyarakat kampung tetangga juga turut diundang dalam kegiatan maulid ini. Ini bagian dari silaturrahmi yang tak terpisahkan dari meudike Aceh. Masyarakat duduk melingkar dan makan bersama tanpa melihat perbedaan usia muda maupun tua. Jika tidak ingin makan dilokasi meudike, biasanya ada bungkusan yang selalu bisa dibawa pulang.

Di beberapa kampung ada perlombaan meudike atau shalawat nabi melalui gerakan duduk maupun berdiri yang diadakan setiap tahun. Kelompok maulid yang paling kompak dan fasih bacaannya akan menjadi pemenang perlombaan ini.

Perlombaan Meudike yang paling kompak dan fasih juga dilakukan di Aceh setiap tahunnya (Gambar : www.simomot.com)
Setiap daerah mempunyai tradisi berbeda dengan daerah lain. Di Medan dikompleks saya tinggal, perayaan maulid diadakan dengan gerak jalan santai, perlombaan anak-anak dan bazar makanan dan pakaian. Selain itu, diselingi dengan lagu-lagu nasyid yang bernuasa agama dan rindu kepada Rasulullah. Serta malamnya dengan ceramah agama. Masyarakat juga ramai berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Di Aceh juga begitu, tidak hanya meudike dengan gerakan tetapi juga dengan ceramah agama yang dilakukan oleh ustad-ustad dan perlombaan tentang maulid dan Rasulullah yang diikuti oleh anak-anak serta ada santunan untuk anak-anak kurang mampu, yatim, piatu dan yatim piatu tiap-tiap kampung. Ketika perayaan maulid rata-rata kaum laki-laki ke mesjid untuk menyukseskan acara maulid ini. Sementara perempuan memasak kenduri maulid dirumah. Maulid ini bagian dari bentuk syukur masyarakat aceh terhadap rezeki. Maulid ini bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang yang kaya tetapi yang ekonominya pas-passan juga berlomba-lomba membuat kenduri maulod.

"Maulid itu sebagai tradisi yang mengarah pada persatuan dan saling berbagi antar masyarakat yang ada di Aceh. Misalnya ada kaum dhuafa yang kurang merasakan makan dengan enak. Nah, pada hari maulid semua bisa merasakan makan dengan enak dengan menu yang berbeda seperti hari biasanya," begitu salah satu pendapat Irma yulia mengenai maulid di Aceh. 
Nilai-nilai dalam maulid ini banyak sekali diantaranya mengingatkan diri kita tentang sosok yang merindukan kita yaitu Rasulullah. Ketika akhir hayat, Rasulullah masih saja memikirkan kita : Ummati..ummati..ummati.. Semoga kita juga termasuk yang merindukan dan mencintainya hingga kita memperoleh syafaatnya di hari akhir kelak.

Semoga perayaan maulid bukan hanya sebuah pesta besar makan-makan bersama tetapi lebih dari itu yaitu bagaimana kita meneladani Rasulullah sebagai sebaik-baiknya teladan dalam hidup kita dengan melaksanakan sunah-sunah yang telah dianjurkan olehnya. Karena percuma jika perayaan atau peringatan hanya sebuah seremonial saja tanpa adanya realisasi keteladanan dalam kehidupan nyata.
Maka semoga kita selalu menjadi ummat terbaiknya dan selalu bershalawat kepadanya agar kelak di hari akhir bisa bertemu dengannya.

Selamat mengaplikasikan nilai-nilai terbaik dari suri tauladan kita.
Selamat membaca, terima kasih (NM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar