Enter your keyword

Kamis, 10 Desember 2015

Desember : Natal dan Tsunami Aceh

Desember..
Apa yang terpikirkan oleh kamu tentang Desember? Desember adalah bulan terakhir di tahun Masehi, bulan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS), bulan Hak Asasi Manusia, bulan dimana Indonesia menandatangani meratifikasi Konvensi Hak Anak, bulan Natal, bulan Tsunami, bulan diskon besar-besaran, bulan cuci gudang, bulan pesta kembang api, dan tentu setiap orang mempunyai arti masing-masing mengenai bulan ini. 
Baik karena bulan kelahiran, bulan pernikahan dan mungkin karena momen spesial lainnya.

Desember di Kota Metropolitan ini membuat oase kemeriahan Natal terasa sekali. Di sepanjang jalan, toko-toko, Mall-mall, Gereja, tempat-tempat bersejarah lainnya berjejer pohon natal dengan pernak-pernik cantiknya, paket kado natal lainnya juga berjejer dengan banyak pilihan serta boneka-boneka sinterklas tersenyumpun tak kalah luput dari perhatian. 

Sudah 5 tahun saya berada di Kota Medan ini menikmati kebahagian Natal yang dirayakan oleh sahabat-sahabat kristiani. Sementara di Aceh, lain lagi ceritanya.


Pohon Nata mempunyai filosofi tersendiri bagi umat kristiani
Pohon Natal mempunyai filosofi tersendiri bagi umat kristiani

Setiap Natal, simbol pohon natal dengan bintang dipucuknya seolah tak bisa dilepaskan dari pohon natal. Pohon natal atau pohon cemara ini bukan suatu keharusan dalam merayakan Natal. Hanya saja filosofi yang daunnya tetap tumbuh hijau meskipun dilanda salju, pucuknya yang menjulang menuju langit, menjadi simbol rohani umat kristiani.

Mereka juga menginginkan hidup mereka bak pohon natal yang selalu memberi kesaksian indah bagi orang lain atau dikenal evergreen. Pohon natal termasuk salah satu pohon yang bertahan hidup dikala musim dingin melanda, hampir sama dengan kaktus yang bertahan hidup di gurun.

Tak ada yang tahu persis tanggal dan hari kelahiran sang Al-Masih. Namun menurut kalender Masehi, tahun kelahiran Yesus dipakai sebagai dimulainya tahun Masehi. Menurut Catatan, Perayaan Natal mulai dilakukan pada abad ke-4 Masehi, tepatnya tahun 336 M berdasarkan kalender romawi kuno. 

Catatan juga menyebutkan, Kerajaan Romawi pada akhir tahun 300-an memeluk kristen katholik. Kemudian melalui Konstantin, Kaisar Romawi waktu itumemutuskan bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari lahir Yesus Kristus. 

Keputusan ini dibuat saat konsili tahun 325 M. Penentuannya sendiri mengacu pada budaya perayaan kaum pagan. Dari abad ke-4 hingga ratusan tahun kemudian, Natal menjadi perayaan keagamaan penting di Eropa. Dalam menyambutnya, biasanya masyarakar Eropa memasak masakan khusus yang berbeda dari hari-hari biasanya.

"Natal adalah kabar kemenangan bagi saya pribadi sebagai orang yang percaya kepada-NYA. Bahwasannya Tuhanku memilih turun ke bumi karena DIA mengasihi semua umat manusia. Natal itu merayakan kelahiran Yesus yang artinya memberi sukacita kepada yang percaya kepada-NYA. Natal adalah moment berkumpul bersama-sama dengan keluarga dan semua orang yang aku kasihi. Bagiku, Momen Natal yang dirayakan setiap desember ini merupakan moment mengingat lagi dan lagi betapa Tuhanku mengasihiku, dan oleh sebab itu aku bersukacita, berbahagia dan meneruskan sukacita ini kepada yang ku kasihi," Begitu jawab salah satu temanku Enjelina Sinambela mengenai mengapa bulan desember dan Natal begitu berarti baginya.


Sementara di Aceh..

Pohon Natal atau cemara , Jika di Aceh lebih dikenal dengan sebutan bak Aron. Bak Aron dan pohon kelapa adalah 2 jenis pohon yang menghiasi pantai-pantai cantik yang ada di Aceh. Seperti yang terdapat di Pantai Lamnaga Aceh Barat, Pantai Naga Permai Nagan Raya, Pantai Suak Geudubang Aceh Barat, Pantai Babah Lueng Nagan Raya, Pantai Suak Ribee Aceh Barat, Pantai Lampuuk Aceh Besar dan pantai lainnya. Bak Aron juga merupakan kesaksian bisu ketika bencana Mahadahsyat menimpa Aceh, meluluhlantakkan semuanya.

Pohon Natal yang berada di Pantai Aceh
Pohon Natal atau cemara yang berada di Pantai-pantai Aceh


Kisah ini dimulai 11 tahun lalu, saat kami anak-anak pantai menghabiskan hari-hari di pantai yang tidak jauh dari rumah. Menikmati hasil tangkapan pancingan maupun jaringan Ayah, hasil tanggukan udang Ayah saat air laut berwarna merah jambu, menikmati lokan di rawa-rawa sekitar pantai dan sejumlah kegiatan yang mengasikkan. 

Tidak ada gadget, bermain balap sepeda di bukit-bukit sekitar pantai , berteduh di pohon cemara dan mandi laut sepuasnya tanpa takut tenggelam atau terbawa air laut yang sedang tinggi. Benar-benar masa kecil yang indah. hehehe.

Pantai dan Laut adalah hal yang tak bisa dipisahkan oleh penduduk pesisir seperti kami ini. Karena itulah yang menghidupi hidup ini. Namun siapa sangka, laut tempat bersahabat menjadi ganas dan garang. Menghancurkan banyak hal yang tidak kami pahami sebagai anak yang masih berusia 12 tahun saat itu.

Tsunami Menghancurkan Aceh
Tsunami yang menghancurkan Aceh


Bumi yang damai, kini di goncang gempa dengan segala 9,1 SR dan Laut yang biasanya tak pernah menghancurkan namun kini ia berdiri setinggi pohon kelapa siap menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Tsunami. Tsunami berasal dari bahasa jepang. Tsu artinya pelabuhan dan Nami artinya Ombak Besar. Jadi, Tsunami adalah gelombang laut dahsyat atau gelombang pasang yang terjadi karena gempa bumi dan letusan gunung api di dasar laut.

Kejadian itu tepat di tanggal 26 Desember 2004 lalu. 11 tahun memang sudah berlalu, namun rakyat Aceh tak akan bisa melupakan bencana mahadahsyat ini. 

Aceh seperti kota mati saat itu. Mayat, bangunan, dan semuanya berantakan. Korban Tsunami sekitar 230.000 jiwa sementara yang meninggal ditaksir seratus ribuan jiwa dan jutaan pengungsi yang selamat. Sementara itu tidak hanya korban jiwa, Tsunami mengakibatkan kerugian lebih dari US$ 10 Miliar atau Rp 185 triliun. (menurut sumber : liputan6.com tertanggal 11 November 2013)

Desember adalah bulan kesedihan bagi masyarakat Aceh, bahkan mungkin juga bulan duka bagi dunia. Cerita tentang Tsunami seperti kisah yang tak pernah selesai dan seperti baru saja terjadi. 
Masih ada tangis disana karena pada kenyataannya masih banyak mayat-mayat yang belum ditemukan hingga hari ini, masih ada ketidak pastian bangunan rumah korban disana karena masih banyak juga yang bermain tangan dengan bantuan kemanusian ini, dan masih ada yang trauma disana yang belum terselesaikan dengan baik.

Tentang pilunya Tsunami, salah satu anak korban Tsunami Aceh, Osyanda Rahayu menuliskan sebuah Puisi berjudul "Tsunami" yang dituliskan 1 tahun lalu.

Ini tentang sepuluh tahun lalu
Tentang Aku yang berstatus siswa kelas lima Madrasah Ibtidaiyah
Bertempat tinggal di pengungsian
Sekolah di tenda, tanpa seragam, tanpa buku dan tanpa sepatu 
Kesaksian atas hari itu,
Gelombang besar nan hitam yang menggulung daratan
Tubuh-tubuh tanpa nyawa terseret begitu saja diantara beragam benda lainnya 
Membuat hiruk pikuk dan teriakan
Tangisan dan air mata kehilangan
Istri yang kehilangan suaminya
Ibu yang kehilangan anaknya 
Anak-anak yang menjadi yatim dan piatu 
Pekuburan yang kehilangan batu nisannya 
Sepuluh tahun lalu
Air mata Aceh tak pernah cukup menjelaskan kepedihannya
Tentang kampungku sepuluh tahun silam
Yang dipenuhi lumpur hitam dan sampah-sampah sisa reruntuhan 
(OR, Banda Aceh 2014)

Memang menyedihkan namun dibalik itu semua, Aceh mulai bangkit lagi. 11 tahun bukan waktu yang lama dan singkat untuk membangun Aceh menatap hari esok lebih baik. Jalan Lintas Aceh diperbaiki dan tidak terputus lagi, bangunan-bangunan fisik seperti rumah, masjid-masjid, sekolah-sekolah, hotel-hotel, toko-toko, bangunan sejarah mengenai tsunami seperti Gedung Museum Tsunami Aceh, gedung penyelematan jika terjadi gempa  dengan standar tahan gempa, anak-anak kembali bersekolah dengan langkah aman tanpa takut konflik senjata. Mereka siap meraih masa depan yang gemilang.

Salah satunya Osyanda Rahayu, saat ini gadis pemilik puisi tersebut menjadi mahasiswa berprestasi dikampusnya dan menjadi Duta Wisata Aceh Barat. Anak Aceh tahu bagaimana bangkit dan meraih mimpi walau Tsunami telah menghancurkan segala fisik bangunan rumahnya.

10 tahun Perayaan Tsunami Aceh, tahun lalu.

Desember di Aceh adalah peringatan Tsunami yang tak pernah mati di ingatan melalui do'a bersama, ziarah kubur massal, ceramah agama, refleksi Tsunami, dan pengajian lainnya. Tsunami adalah pelajaran terbaik dari-NYA agar kita khususnya masyarakat Bumi Serambi Mekkah ini kembali. Kembali pulang dengan tenang. Tidak usah terlalu gila dengan perhiasan dunia dan segala senda guraunya. Jika Tuhan sudah berkehendak, sehebat apapun kekuatan kita. Kekuatan-NYA tetaplah tak tertandingi.

Desember di Kota ini, Pohon Natal yang berjejeran dengan indah dan suka cita teman saya yang umat Kristiani. Setiap orang mempunyai arti masing-masing dalam merayakan momen spesialnya, dan saya menikmati dua hal pengalaman ini. Mengingat Aceh dengan optimis dan melihat toleransi antar agama di kota ini dalam perayaan keagamaan.

Semoga kita selalu menjadi pengambil pelajaran yang baik atas setiap hal dan kejadian yang kita alami. Selamat membaca, terima kasih (NM)

4 komentar:

  1. Ada hikmah di setiap musibah yg dialami. Dengan kesabaran yg nas miliki, kini nas dan kawan2 telah mendapatkan hikmah itu. Wah.... jadi rindu sama meulaboh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang, selalu ada hikmah dibalik musibah.

      yok bang ke Meulaboh lagi. Meulaboh udah cantik lagi loh hehe

      Hapus