Enter your keyword

Rabu, 04 November 2015

Sebuah Harapan dan Impian Anak Jalanan

Medan yang panas, terik dan bising menjadi irama hidup dijalanan. Bagi kami ini seperti musik yang asik perpaduan gitar,kecipung dan kincrung yang kami mainkan saat mobil mewah, becak dan juga angkot yang berhenti disimpang lampu merah kami. Kami menyebutnya lampu merah kami : ya karena kamilah yang setia selalu berada dilampu merah ini. Terkadang menganggu bagi kami adalah ketika beberapa kelompok mahasiswa yang demo disimpang lampu merah yang menggangu hidup kami. Sempat terfikir oleh kami mengapa demonya disimpang lampu merah ini? kok nggak di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat saja? Lalu siapa yang mau dengar aspirasi mereka disini. Kami disini saja susah mencari makan, apalagi demo yang tidak jelas. 


Oh iya beberapa dari kami ada yang dibayar oleh kelompok mahasiswa itu. Kami menerimanya dengan alasan yang sangat simple yaitu demi pemenuhan sejengkal perut agar tidak kelaparan. Darimana uang itu didapat mahasiswa itu? itu urusan mahasiswa yang sedang berfikir rumit. Sesekali kami diwawancarai untuk penelitian akhirnya, skripsian atau tugas dari dosen. Uang itu nanti mungkin cukup untuk membeli minuman pengusir dahaga. Selesai skripsi atau tugasnya kemana mahasiswa itu? Entahlah..kamipun tidak tahu, mereka datang dengan kepentingannya. Kadangkala kami berjumpa diangkot dan mereka sibuk dengan ponselnya. Kami kadang hanya sebagai objek penelitian ini.

Oh ini kepanjangan. Lupakan tentang mahasiswa-mahasiswa itu, karena kami yakin masih banyak mahasiswa yang cerdas,jujur dan peduli diluar sana. 

Anak Punk Medan
Diskusi dengan  Komunitas Punk Jalanan di Simpang Aksara Medan
Hidup dijalanan itu keras, wajar jika kami keras dan kadang berbicarapun seperti marah. Sebenarnya bukan marah namun berbicara pelan, suara kami tidak terdengar. Bunyi klakson dan suara decit rem beriringan. Mengertilah, kami tidak segarang yang diluar kira. 

"Jika kalian datang dengan maksud baik, kami sambut dengan baik.
Jika kalian datang dengan hati yang tulus, kami juga akan lebih tulus.
Karena pada akhirnya kita sama-sama punya hati dan masih sesama manusia."

Penampilan kami kadang acak-acakan dan terlihat kumal. Kami akui kami kadang kurang menjaga kebersihan dan kesehatan, tetapi diluar itu juga kadang hujan. kami tidur dikolong meja dan emperan. Memakai baju yang sama berhari-hari. Kadang harus tetap ngamen untuk mengisi sejengkal perut agar tidak kelaparan. lalu bagaimana kami bisa berpenampilan keren?

Mengamen adalah aktifitas sehari-hari kami agar tidak kelaparan
Kadang kami kesakitan, kaki kami luka karena 'berkejaran' dijalanan, gitar kami disita oleh pemilik toko yang sering kami tidur emperannya dan kami harus kejar-kejaran dengan Satuan Polisi Pamong Praja. Kadang kami akan ditangkap karena dianggap merusak keindahan kota. Padahal kami hanya mengamen ; mengapa mereka menganggap kami melakukan tindakan kriminal? padahal sama-sama cari makan. Ah, mungkin mereka merasa terganggu. Walau kadang kami tidak tahu. Sialnya kadang kami tertangkap oleh mereka yang berseragam itu dan mereka seolah berhak atas diri kami. Menyuruh kami membersihkan mobil dinas nya, membotakkan rambut kami, menendang kami dan membawa kami ke panti dengan alasan 'pembinaan'. Ya pembinaan model didalam jeruji besi , gelap tidak ada lampu, dianggap sebagai pesakitan namun syukurnya tetap diberi makan.

Kami juga berusaha kabur dari panti 'pembinaan' itu, tidak tahan 'dibina' dan diperlakukan seperti pesakitan. Dan pada akhirnya jalanan selalu menjadi tempat kami pulang. Saat pamong pulang dari mengantar kami ke panti, saat itu juga kami berusaha keluar dari panti itu. Kadang kami berjumpa lagi dipersimpangan jalan "loh kok kau lagi yang ku jumpa? keluar pulak kau dari panti, hei kau..hei". Jika begitu berarti mereka menandai kami, lalu saatnya mengambil langkah seribu : kabuuurr...!! 

Kita saling belajar menerima, karena kami juga bagian dari masyarakat

 Ini hidup kami, ini jalan cerita kami. Kami tidak butuh dikasihani, kami hanya butuh apresiasi dan ketulusan hati. Anggap kami bagian dari masyarakat, jangan menutup mata bahwa kita sama. Kami juga membayar pajak negara ini, menunggu negara seperti dalam Undang-undangnya mungkin tidak akan terwujud seperti mimpi. Butuh banyak tangan untuk membantu negara 'mengajak' kami belajar apapun itu. Kita saling belajar untuk saling menerima. Ajari kami bagaimana belajar hidup berdampingan dengan masyarakat dan masyarakat belajar mengurangi stigma negatif kepada kami.

Buku bacaan juga bagian dari kebutuhan kami

Kami juga rindu sosok orang tua dan keluarga disini, kami memutuskan pergi dari rumah salah satunya juga karena rumah tak membuat kami pulang. kami juga butuh istirahat, makan dan bermain. jika kami bisa memilih tentulah ini bukan pilihan kami. Hanya mereka yang tidak waras mungkin tidak ingin kaya dan tidak punya cita-cita. Kami masih waras dan masih banyak harapan yang kami gores walau dijalanan. Kami punya mimpi bagaimana kelak menjadi pengusaha, penulis, pemain sepak bola, musisi yang andal, dancer yang hebat dan segudang mimpi lainnya. Beri kami ruang dan apresiasi karena kami juga akan belajar membuktikan lewat prestasi yang kami raih.(NM)


2 komentar: