Enter your keyword

Rabu, 04 November 2015

Kapan Anak Bisa Berbicara?

"Anak kecil nggak usah suka mengkritik orang tua, anak kecil nggak tau apa-apa, gak usah ikut campur..!" 

Kata-kata yang kerap kali kita ucapkan atau kita dengar yang menganggap bahwa anak kecil tidak tahu apa-apa. Kalau sudah begini yang dikomentari hanya diam dan menelan air ludah saja. Meskipun mereka bukan anak kecil ingusan lagi kita tetap memperlakukan mereka sebagai manusia yang bisa-bisa di dekte-dekte sana-sini. Padahal jika kita menyadari bahwa mereka sudah remaja juga dan sudah bisa membedakan yang mana yang baik dan yang mana yang salah. Tapi karena sikap orang dewasa yang suka sekali menjadi diktator enggan menerima pendapat-pendapat anak-anak yang dibawah nya. Seharusnya kita memberikan kepada mereka peluang-peluang kepadanya untuk berbicara dan bersuara tentang pandangan-pandangannya. Kita harus mendukung semua pendapatnya jika itu yang terbaik baginya dan jika memang misalnya tidak baik, Kita bisa mengatakannya secara bijaksana , tidak mesti mengutukinya dan merendahkan umurnya yang dibawah kita.

Kadang karena mereka selalu dianggap mereka bisa mengakibatkan psikis nya tertekan dan dia hanya diam jika ada tanggapan. Dan dalam pikiran mereka : untuk apa berbicara, toh... tidak dianggap apa-apa.! Jika sudah berpikir begini, anak-anak jarang berpendapat dalam semua kegiatannya karena mereka sudah menganggap pasti mereka kan dicela. Akhirnya diam adalah pilihan yang tepat baginya dan juga bisa membuat rasa percaya dirinya berkurang. Padahal jika kita mempunyai kesadaran lebih jauh, bahwa setiap orang berhak bersuara, berkumpul dan berserikat sesuai Undang-Undang Dasar di Negara kita tercinta ini..

Kapan Anak Bisa Berbicara
Kapan Anak Bisa Berbicara?

Apalagi seorang anak mereka juga berhak bersuara seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Perlindungan Anak no.23 tahun 2002, pasal 56 (1) Pemerintah dalam menyelenggarakn pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat :

 a. Berpartisipasi
 b. Bebas mengatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya
 c. Bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak
 d. Bebas berserikat dan berkumpul
 e. Bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkarya seni budaya ; dan
 f. Memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan

(2) Upaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikembangkan dan disesuaikan dengan usia, tingkat kemapuan anak, lingkungannya agar tidak menghambat dan menganggu perkembangan anak.

Pemerintah telah membuat peraturan untuk menghargai semua suara anak baik dalam keluarga masyarakat dan negara tentunya. Karena suara-suara kecil kadangkala juga mempunyai peran yang besar kan? Maka, berikan kepada mereka apa yang menjadi kepentingan terbaik baginya dengan tidak menjadikan diri kita sebagai penguasa atau diktator yang selalu harus dituruti. Hargai semua pendapatnya baik itu dari mereka yang kurang maupun lebih karena fisik maupun psikisnya.

Berikan mereka apresiasi atas pandangan-pandangan meskipun masih kurang berkenan dihati kita, karena itu akan menumbuhkan semangat dan percaya diri mereka meningkat. Dengar kan kepada mereka kata-kata yang membuat mereka bangkit dan dukung mereka berpartisipasi dalam semua hal. Bukankah itu salah satu prinsip Hak Anak? Jadi, kapan anak bisa berbicara? Jika kita terus menutup mulutnya dengan penyumbat? Dan jika kita tidak mengajarinya berpartisipasi dalam usia sedini mungkin. Bagaimana generasi kedepan nantinya? Oleh karena itu, tunjukkan  kesadaran kita mengenai hak anak sesuai pasal 12 Konvensi Hak Anak agar mereka berani berbicara dan bersuara untuk kehidupan yang lebih baik. (NM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar