Enter your keyword

Sabtu, 28 November 2015

Anak Jalanan VS Satuan Polisi Pamong Praja

Secara umum kota-kota besar di Indonesia mempunyai tantangan dan persoalan yang kompleks dan tidak jauh berbeda, diantaranya semakin tinggi tingkat kriminalitas di kota-kota besar, ruang hijau yang semakin berkurang, berdirinya bangunan-bangunan kumuh yang tidak layak huni dan tingkat urbanisasi yang semakin tinggi, banyak penduduk dari desa pindah ke kota dengan harapan mencari kehidupan kota guna memperbaiki taraf hidupnya agar lebih baik dari tempat asal.

Namun urbanisasi menjadi permasalahan klasik tersendiri bagi pemerintah dalam mengurangi laju urbanisasi yang semakin hari semakin meningkat. Pertambahan penduduk yang semakin banyak, lowongan kerja yang tak bisa menampung semua pencari kerja dan persaingan yang kuat menjadikan hidup di kota lebih keras dibanding kampung halaman. 

Bangunan fisik semakin kota besar atau sering kita sebut kota metropolitan semakin mengagumkan. Bagi mereka yang 'menang' maka hidup akan tenang dan nyaman. Namun bagi mereka yang 'kalah' dalam persaingan, berkutat dengan kemiskinan dan sebagian hidup dijalanan merupakan pilihan pahit yang harus dijalani. 

Pengemis, preman, gelandangan dan anak jalanan merupakan fenomena yang mudah dijumpai disudut jalan kota metropolitan.
Jika di negara maju saja masih ada fenomena anak-anak jalanan apalagi negara berkembang, sudah tentu fenomena anak jalanan bukan hal yang asing lagi.


Anak Jalanan di Simpang Tritura Kota Medan
Simpang Tritura merupakan salah satu titik aktifitas anak-anak jalanan di Kota Medan

Begitu juga di Kota Medan, permasalahan anak jalanan bukan permasalahan yang baru. Rata-rata setiap titik simpang Kota Medan bisa kita lihat banyak anak-anak yang beraktifitas di jalanan. Seperti Simpang Pos, Simpang Ring Road, Simpang Aksara, Simpang Tritura , Simpang Juanda, Simpang Mandala, dan simpang lainnya. 
Aktifitas anak-anak dijalananpun beragam seperti mengamen, menjadi penjual asongan, menjadi pengemis dan ada juga yang hanya ikut-ikutan ‘meramaikan’ jalan.

Sebelumnya kita perlu mengetahui pengertian anak jalanan, berikut beberapa pengertian anak jalanan:

1. Menurut Kementerian Sosial Republik Indonesia

Anak Jalanan adalah anak yang melewatkan atau memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-harinya di jalanan. 

2. Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002

Anak jalanan adalah anak yang menggunakan sebagian waktunya di jalanan

3. Menurut United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF)

Anak jalanan adalah anak-anak yang berumur dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga dan lingkungan masyarakat terdekatnya , larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya.

Anak Jalanan sedang mengamen di Simpang Aksara Medan
Anak jalanan sedang mengamen di Simpang Aksara Kota Medan

Sebenarnya banyak sekali definisi anak jalanan meskipun belum ada istilah baku sebutan untuk anak jalanan. Namun secara keselurahan, pengertian anak jalanan adalah anak-anak yang berusia 6-12 tahun yang beraktifitas dijalanan untuk bermain dan bekerja, yang tinggal bersama keluarga maupun terpisah serta menghabiskan waktu lebih dari 4 jam per hari di jalanan. 

Mungkin kita bisa melihat semakin hari semakin banyak anak-anak beraktifitas dijalanan. Banyak sekali penyebab atau latar belakang anak-anak yang akhirnya 'turun' ke jalan karena faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor sosial dan faktor lainnya. 


Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak untuk mendapatkan segala pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan etika , agama dan lainnya.

Namun ketika keluarga tidak lagi rasa nyaman dan aman, banyak sekali kekerasan yang dialami, peraturan rumah yang sangat ketat tanpa partisipasi, maka jalanan merupakan pilihan pelarian untuk mendapatkan kebebasan.
“Aku tidak mau pulang ke rumah karena bapak dan mamak selalu berantem. Dan aku tidur dirumah saja susah kak. Kau tidur aja kerja kau, macam raja kau dirumah ini, begitu kata mamakku, kalau aku tidur kak. Mana enak rumah macam neraka itu kak. Mending dijalan, meskipun tidak ada uang namun hati senang,” 

Begitulah kira-kira pengakuan salah satu anak jalanan saat berdiskusi bersama saya mengapa bertahan hidup di jalanan. Selanjutnya, faktor ekonomi keluarga juga mempengaruhi anak-anak untuk 'membantu' meringankan beban orang tua dengan mengamen , menjadi pedagang asongan dan lainnya. Penjualan di jalanan lebih laku dibandingkan di jual di kios depan rumah. Karena aktifitas di jalanan yang padat membuat penjualan daganganpun meningkat. Sehingga bisa membantu orang tua lebih banyak lagi.


Di jalanan anak-anak bisa mengeluarkan pendapatnya sesuka hati, tidur sembarangan dan tidak ada aturan yang wajib diikuti serta mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.




Anak Jalanan bermain bola di Simpang Aksara
Di simpang jalanan juga bisa bermain bola

Selain faktor keluarga dan ekonomi, faktor eksternal lainnya juga mempengaruhi diantaranya tidak ada teman sepermainan di sekitar rumah dan tidak ada lapangan bermain bagi anak-anak. 
Pembangunan fisik semakin dilakukan, bangunan-bangunan kokoh menjulang mencakar langit namun semakin sulit menemukan ruang untuk bermain.

Sebagian anak menghabiskan waktunya bermain games dan gadget sendiri di rumah tanpa bersosialisasi dengan tetangga sekitar, sebagian menghabiskan waktunya bermain online di warung internet dan sebagian lainnya memilih di jalanan untuk bermain dan bertemu dengan banyak teman.

Baiklah, itulah sekilas mengenai jalanan dan faktor mengapa anak-anak beraktifitas dijalanan. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin dibahas mengenai anak jalanan, oleh karena hal itu, maka Blog ini mempunyai kolom khusus mengenai anak jalanan. 


Anak Jalanan bernyanyi dengan senang hati
Anak jalanan berekspresi melalui nyayian dengan senang hati 


Selanjutnya pada tulisan ini saya ingin membahas tentang hal yang menjadi kekhawatiran anak jalanan di jalanan. 


Anak jalanan merupakan anak yang rentan atau beresiko mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan, seperti rawan dieksploitasi secara ekonomi maupun seksual, rawan menjadi korban traficking dan banyak sekali kesulitan dalam mendapatkan hak-haknya seperti hak mendapatkan pendidikan, hak mengakses layanan kesehatan dan hak untuk mendapatkan identitas sebagai warga Negara Indonesia lainnya. 


Namun yang paling menarik adalah ketika saya berdiskusi bersama anak-anak jalanan tentang apa yang paling mereka takutkan dijalanan? Maka, salah satu jawabannya yaitu sebagai berikut:
"Yang paling aku takut dan aku benci bukan preman, bukan polisi  tetapi satuan polisi pamong praja kak. Satpol PP bukan hanya mengambil alat musik kami seperti ukulele dan gitar, tetapi kadang menangkap kami seperti binatang. Kekerasan akan kami dapatkan jika kami melakukan perlawanan dan berlarian saat mereka melakukan razia. Kami kadang dianggap pesakitan yang harus mendapatkan “pembinaan” di panti yang jauh dari sini dengan tujuan yang kami sendiri tidak paham. Jadi, jangan heran ketika Satpol PP kembali ke Medan , kamipun berusaha kembali ke Medan walaupun sendirian. Kami memikirkan banyak cara agar keluar dari panti itu, selain karena kami tidak nyaman, kami juga tidak tahu apa manfaatnya berada disitu," kata US disuatu sore saat kami bercengkrama.
Begitulah, ada banyak resiko yang menjadi pertimbangan. Waspada dengan segala kemungkinan adalah hal yang tidak boleh dipisahkan dari jalanan termasuk razia dari Satuan Polisi Pamong Praja atau sering disingkat dengan Satpol PP.


Satuan Polisi Pamong Praja
Satuan Polisi Pamong Praja (sumber gambar : fakta12.wordpress.com)

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2014, Polisi Pamong Praja merupakan perangkat pemerintah daerah dalam menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan peraturan daerah dan keputusan kepala daerah.
Polisi pamong praja juga mempunyai wewenang berdasarkan pasal 5 PP RI No 32 tahun 2014, yaitu:

a. Menertibkan dan menindak masyarakat atau badan hukum yang menganggu ketentraman dan ketertiban umum

b. Melakukan pemeriksaan terhadap warga masyarakat dan badan hukum yang melakukan      pelanggaran atas peraturan daerah dan keputusan kepala daerah.
c. Melakukan tindakan represif non yustisial terhadap warga masyarakat atau badan hukum yang  melakukan pelanggaran atas peraturan daerah dan keputusan kepala daerah.

Kota Medan sebagai kota metropolitan mempunyai Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2003 tentang larangan gelandangan, pengemisan serta praktek tuna susila di Kota Medan. 

Didalam Perda tersebut, disebutkan pengertian pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta dimuka umum dengan berbagai cara baik berupa mengamen maupun alasan lainnya untuk mengharapkan belas kasihan orang lain. Memang tidak ada sebutan khusus untuk anak jalanan tetapi aktifitas mengamen termasuk kedalam kegiatan pengemisan. Jadi, mengamen tetap dilarang dan tetap dirazia.

Suatu kali saya berdiskusi dengan salah satu personil Satpol PP, mengapa melakukan razia kepada anak jalanan. Padahal anak jalanan tidak menganggu ketertiban dan juga tidak melakukan tindakan asusila. Lalu anak jalanan tetap 'ditangkap'. Maka jawabannya adalah seperti berikut ini:


"Kami melakukan razia itu karena itulah kewajiban kami untuk menjaga ketertiban dan ketentraman masyrakat. Melakukan razia adalah pekerjaan kami untuk menyadarkan masyarakat agar disiplin. Anak jalanan kan ngamen, jadi berdasarkan Perda tetap 'ditangkap'. Kalau nggak razia, nggak ada anak jalanan juga, lalu apalah pekerjaan kami ini?"
Saya berharap kedepannnya, jikapun ada razia khususnya anak jalanan, Satpol PP  tidak memperlakukan anak jalanan dengan kekerasan dan alat-alat musik mereka disita secara sembarangan. Anak-anak jalanan mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik maupun psikis, mendapatkan pengakuan dari masyarakat sebagai bagian dari masyarakat, mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan identitas serta mendapatkan pemberdayakan ekonomi untuk kehidupan yang lebih baik. 

Lalu, jikapun nanti tetap harus dilakukan pembinaan di panti pembinaan, maka sistem pembinaan dan pengawasnya harus jelas. Bukan hanya dimasukkan saja di panti tersebut, namun anak jalanan tidak tahu manfaat dan tujuannya seperti apa.


Anak jalanan membersihkan lingkungannya
Anak jalanan juga menjaga kebersihan lingkungan sekitar jalan

Anak jalanan juga harus proaktif dengan Satpol PP dengan membantu memberikan informasi yang dibutuhkan demi kepentingan pekerjaan, membantu Satpol PP dalam melakukan misi-misi sosial kemanusiaan dijalanan khususnya, tetap menjaga kebersihan badan dan lingkungan di jalanan dan masih banyak kegiatan bersama yang bisa dilakukan Satpol PP dengan anak jalanan. 


Pada dasarnya Satpol PP dan anak jalanan sama-sama bekerja di jalanan untuk memenuhi kebutuhan perut agar tetap makan dan tidak kelaparan. Sudah seharusnya semua bersinergi dan saling membantu. Anak jalanan tidak melihat Satpol PP sebagai musuh  yang harus lari ketika melihatnya dan Satpol PP sebaliknya juga tidak melihat anak jalanan sebagai musuh yang harus disingkirkan dengan kekerasan.


Tulisan ini bukan untuk ‘melaga’ anak jalanan dengan Satuan Polisi Pamong Praja. Namun untuk melihat dua sisi persepsi mengenai jalanan dari sudut pandang yang berbeda. Akhir kata, tulisan ini dituliskan berdasarkan pengalaman saya pribadi sebagai fasilitator lapangan untuk anak jalanan disebuah yayasan yang fokus terhadap pendidikan dan informasi hak anak di Kota Medan.
Jika ada kesalahan dan kekurangan, mohon diberi masukan. Selamat membaca, terima kasih. (NM)


1 komentar: